“kamu tau, aku capek,
lelah. Karena kamu luka ini kian besar”
Kata hati menahan tangis
“jadi, aku harus
bagaimana? Aku juga tidak bisa langsung begitu saja menghentikan semuanya”
Kata pikiran mulai
bingung
“mulai sekarang, kamu
boleh berfikir apa saja. Terserah kamu, yang penting jangan pikirkan tentang
DIA”
kata hati mulai emosi
“kamu tuh yah, bisanya
Cuma nyuruh doang. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti memikirkan DIA kalo kamu
aja masih menyimpannya”
Kata pikiran tak mau
kalah
“ya kalo kamu tidak
memikirkannya, aku juga tidak akan sesakit ini, bahkan mungkin aku bisa
membuangnya”
“aku bisa saja berhenti
memikirkannya, tapi kamu? Yakin bisa membuangnya? Malah kamu makin menyimpannya
rapat”
“aku sakit” kata hati
tertunduk lesu
“berhenti mencintainya,
berhenti menyimpannya dalam hatimu, dan aku akan berhenti memikirkannya”
Kata otak kemudian
beranjak pergi
Dalam urusan ini memang
tidak pernah sederhana, otak selalu memikirkan apa yang ada dalam hati. Bukan
salah otak yang belum bisa berhenti memikirkannya, bukan salah hati yang masih
menyimpannya.
Mungkin arah yang belum
menemukannya
Mungkin waktu yang belum
mempertemukannya
*hasil interview dari seorang teman*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar