Ini
kisahku beberapa bulan lalu saat aku mengikuti kursus singkat di salah satu
tempat kursus di Makassar. Waktu itu aku sudah menyelesaikan semua
perkuliahanku tinggal ujian hasil dan skripsi, aku sudah tidak terlalu sibuk
lagi jadi aku memutuskan untuk ikut kursus singkat. Jaman sekarang sertifikat
itu penting, dan akhirnya aku menemukan tempat kursus yang betul-betul singkat,
cuma sebulan dengan frekuensi pertemuan lima hari seminggu. Aku memilih jam
siang sampe sore agar aku tetap bisa ke kampus dulu mengurus beberapa keperluan
pagi harinya. Satu minggu berjalan sangat melelahkan, aku gak nyangka bakalan
ribet kayak gini. Keperluan kampus yang aku pikir sudah gak banyak lagi
ternyata malah lebih banyak, belum lagi tugas-tugas kursus. Aku butuh
refresing. Dan tepat sekali hari itu dia mengajakku jalan-jalan. Dia adalah
lelaki yang sedang dekat denganku saat itu. Aku memintanya menjemputku sepulang
kursus. Pukul 5 waktu Makassar, dia yang ku tunggu tak kunjung datang, beberapa
saat pun sebuah pesan singkat masuk di inboxku. Dia bilang bakalan terlambat
karena harus singgah kampus dulu mengumpulkan tugas. Selesai membaca pesan
darinya aku kembali memasukkan ponselku ke tas tanpa membalasnya. Sedikit kecewa
membaca pesan itu, teman-teman kursusku pun sudah pada pulang. Bete juga
berdiri sendiri akhirnya aku memutuskan untuk menyeberang jalan karena di
seberang jalan ada sebuah mesjid. Di sana aku bisa sholat ashar dulu sambil
menunggunya. Selesai sholat, aku memakai kembali jilbabku, sementara tanganku
berkutak-katik dengan pentul dan jilbab, mataku menangkap pemandangan yang tak
biasa. Seorang ibu sedang menuntun suaminya yang buta masuk ke pekarangan
mesjid. Aku mulai bertanya-tanya, mau apakah mereka? Tanpa aku sadari
pertanyaan bodohku itu. Tentu saja mereka mau sholat ini kan mesjid. Ibu paruh
bayah itu menuntun suaminya ke tempat wudhu pria, kemudian ia menuntun suaminya
lagi ke tempat sholat pria yang berada di depanku, tak ada pembatas dinding
antara pria dan wanita di sini jadi, aku bisa melihat dengan jelas pria itu
mulai takbir. Setelah memastikan suaminya sudah sholat barulah ibu itu ke
tempat wudhu wanita untuk berwudhu, kemudian ibu itu sholat tak jauh dariku.
Aku yang duduk agak kebelakang tak henti-hentinya berucap kagum. Subhanallah…..
sungguh cinta yang luar biasa, di jaman seperti sekarang ini ternyata aku masih
bisa melihat sebuah bentuk cinta dan kesetiaan. Selama ini aku hanya melihat
pasangan yang menganggap cinta itu cuma bahasa pujangga, tapi pasangan di
depanku berbeda, apa lagi yang membuat ibu itu bertahan kalau bukan cinta?
Tentu cinta yang besar kepada suaminya. Sedetik kemudian aku tersadar dari
lamunanku, tadi aku lupa membalasa sms lelakiku.
“aku
tunggu di mesjid babul jannah ya”
Lima
menit berlalu tanpa ada balasan. Pasangan suami istri di depanku sudah selesai
sholat. Ku dengar bapak itu memanggil istrinya. Wanita itu langsung berdiri dan
sempat balik ke arahku sambil tersenyum, aku membalas senyuman ibu itu sambil
menundukkan sedikit kepalaku. Aku tidak tau dari mana mereka, sudah sejauh mana
mereka berjalan, dan mau kemana mereka sekarang, yang ku lihat tak sedikit pun
ada raut lelah di wajahnya, mungkin cinta juga sudah membuang rasa lelah di
tubuhnya. Ibu itu kembali menghampiri suaminya dan menuntunnya keluar mesjid.
Aku terus memperhatikan mereka hingga mereka sudah tak terlihat karena
terhalang pagar mesjid yang tinggi. Aku kembali larut dalam lamunanku.
Mungkinkan aku akan menemukan seorang yang setia seperti pasangan ini? Kemudian
aku terfikirkan dengan lelaki yang sedang dekat denganku saat ini. Akankah
lelaki ini yang kelak akan menemaniku hingga menua? Entahlah…… namun jika
memang aku ditakdirkan bersamanya aku tidak yakin bisa seperti pasangan suami
istri tadi. Lihat saja, dia janjinya jam lima tapi sekarang sudah setengah enam
dan dia belum juga datang. Aku sudah mulai kesal, urusan menjemputku saja dia
masih terlambat. aku kembali mengirimkannya pesan singkat
“dimana
ki? Nda keburu nanti sunsetnya”
Dua
menit kemudian aku mendengar sebuah motor berhenti di depan mesjid, aku tau itu
dia tapi aku tidak langsung keluar, biar saja dia menunggu dulu di luar biar
dia tau bagaimana rasanya menunggu. Egoku mulai keluar, ponselku berdering, dia
menelponku
“dibagian
mana ki? Adama di depan mesjid”
“iya,
tunggu” jawabku singkat kemudian menutup telepon.
Aku
baru saja akan memarahinya saat dia memberiku helm tapi dia lebih dulu membuka
mulut
“gimana
sih, adakah orang menunggu di dalam, seharusnya kita tunggu ka disini supaya
nda susah ka cari ki”
Aku
kaget, loh kenapa jadi aku yang di marahin? Rasa-rasanya aku ingin memukulnya
dengan helm yang ada di tanganku tapi dia menyuruhku cepat naik dan aku seperti
kambing conge langsung mengikuti perintahnya. Di perjalanan menuju pantai
losari aku hanya diam, aku kembali melamunkan pasangan tadi, kembali memikirkan
siapa pemilik tulang rusuk ini. Aku tidak yakin lelaki yang sedang memboncengku
adalah orangnya, banyak ketidak cocokkan antara kami yang membuatku ragu. Aku
tidak yakin dengannya, dan benar saja sebulan setelah acara jalan-jalan itu aku
putus dengannya. Kami masih sama-sama egois, itu permasalahan kalsiknya tapi
sebenarnya masalahnya karena aku yang masih perlu di tuntun bukan menuntun, aku
yang harus di tuntun seperti bapa-bapa buta itu, dan aku membutuhkan seorang
lelaki seperti ibu itu, yang mau menuntunku ke rumah Allah. Bukan sebaliknya.