Jumat, 19 April 2013

maros waterpark

berawal dari wisata kebun, beralih ke malino namun berujung ke maros waterpark
yah... begitu acara jalan-jalan ini berakhir. malino.pengen banget kesana, sampai saat ini belum kesampaian. yang sudah janji saya ke malino, awas yah... akan tetap aku tagih janjinya. wisata kebun juga. tunggu saja come back.
hmmm... lupakan malino, lupakan wisata kebun. beralih ke maros waterpark yang asyik. gak nyesel kesana. bersama henny dan kiky. awalnya aku takut banget naik prosotan air yang tinggi banget tapi berkat dorongan dan "pemaksaaan" oleh mereka akhirnya aku berani juga, hasilnya jadi pengen lagi, lagi dan lagi.


selain itu, disana juga ada permainan outboundnya, permainan yang betul-betul menguji adrenalin, awalnya aku takut karena flying foxnya, tapi justrus di situlah keasyikannya, hampir nyesel deh. mulai dari takut, gemeteran, deg-degkan, sudah ku rasakan. dan ternyata keberanian itu ada karena semangat dan dorongan. yah... itu penting ternyata. nanti aku mau lagi deh flying fox yang lebih panjang dan tinggi. 


setelah itu di lanjutkan dengan menjemput twinsy kemudian ke pantai losari
foto-foto, makan pisang epe, makan mie titi, yang ternyata namanya mie awa.
kalo di ingat-ingat lagi, betapa borosnya aku hari itu, tapi gak papalah, insya Allah ada gantinya. kapan lagi bisa kumpul-kumpul bareng mereka, my trurtle.
 


Sabtu, 13 April 2013

tentang hal-hal yang terlupakan

Hal-hal indah yang aku pikirkan tuk mengusir rasa sedih.

1. Saat ada anak kecil yang gak aku kenal menjulurkan tangannya minta di gendong sama aku
2. Dengar papa bilang "emang cuma uni yang selalu bikin semua dengan baik"
3. Menatap rembulan di temani coklat panas
4. Belanja gila-gilaan bareng mama
5. Makan opor belut buatan nenek
6. Dengar adik-adik ku bilang "masakannya enak kak"
7. Chicken field, kentang goreng, mocca flood, pisang epe keju coklat
8. Pertama kali lihat lampu-lampu bandara bersamamu makan jagung bakar
9. Nonton film-film korea
10. Mengarang cerita lucu, membuat mereka tertawa.
11. Duduk sendiri memandangi hujan, gak mikirin apa-apa.

Aku baru ingat, gak selamanya aku sedih, gak selama aku berada di posisi jelek, ternyata aku pernah senang dan bahagia juga tapi akunya saja yang tidak pernah bisa menuangkannya dalam bentuk kata-kata. Nah, saat-saat seperti sekarang ini, saat aku ngerasa sedih, bernasib buruk, ngerasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini, aku harus mengingat saat-saat indah dan bahagia itu. Dengan begitu aku sadar aku pernah bahagia, dan
beberapa saat lagi I will get my spirit back.
Sekarang aku lagi tersenyum. :)

hanya soal WAKTU



Aku ingin menuliskan sedikit tentang apa yang sedang aku rasakan saat ini, agar dapat ku baca nanti. bukan maksudku untuk mengeluh, walau sakit yang kurasa. Aku takut dengan mengeluh akan mengurangi nikmat Allah yang telah di berikan selama ini.
Berada di fase ini sungguh tidak mengenakkan, saat semua mata memandangmu rendah, mencela bahkan menghina. Sungguh, kadang aku ingin balas berteriak kasar kepada mereka kalau aku tidak seburuk apa yang mereka pikirkan dan katakan. namun, kemudian aku berfikir lagi, untuk apa aku harus membalas tatapan merendahkan mereka, toh, walaupun mulutku berbusa-busa menjelaskan mereka tidak akan mengerti, seperti mereka yang tak kan pernah mengerti kalau pendidikan itu penting. Lagian aku yakin mereka akan mengerti jika yang mereka liat adalah bukti bukan kata-kata seperti orasi para calon bupati yang selama ini mereka cuekin. Karena itu aku memilih diam, ya… diam adalah jawaban terbaik saat ini,  mungkin sekaranglah kesabaraku di uji walau sebenarnya hatiku tengah berteriak marah, merintih dan menangis. “Sabar…. Sabar….” Separuh hatiku membujuk. Ya… bersabar, apalagi yang bisa ku lakukan saat ini selain bersabar? Aku tidak bisa berbuat apa-apa tuk membuktikan yang mereka katakan itu salah kan? Mereka benar. Tapi, dengan diam ternyata membuat mereka semakin menjadi-jadi merendahkanku. Lihat, mereka sekarang merendahkanku karena dua hal, yang lagi-lagi aku tak bisa apa-apa selain diam, karena mereka lagi-lagi benar.  
Bersabar…. Aku rasa ini bukan pilihan tapi keharusan. Aku harus bersabar, setidaknya ini juga yang akan membedakan aku dengan mereka. Aku berbeda dengan pikiran kolot mereka selama ini, karena itu aku memilih jalan yang berbeda dengan mereka dengan resiko di pandang rendah oleh mereka seperti saat ini. Tapi ini bukan akhir, ini seperti cambukkan untukku agar lebih cepat membuktikan kepada mereka kalau aku berbeda. Ini hanya soal waktu, mungkin ini adalah waktu dimana mereka memandangku rendah, dan nanti, adalah waktu dimana mereka akan memandangku bangga.
Ya… hanya soal waktu, karena SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA

menuntun ke rumah Allah




Ini kisahku beberapa bulan lalu saat aku mengikuti kursus singkat di salah satu tempat kursus di Makassar. Waktu itu aku sudah menyelesaikan semua perkuliahanku tinggal ujian hasil dan skripsi, aku sudah tidak terlalu sibuk lagi jadi aku memutuskan untuk ikut kursus singkat. Jaman sekarang sertifikat itu penting, dan akhirnya aku menemukan tempat kursus yang betul-betul singkat, cuma sebulan dengan frekuensi pertemuan lima hari seminggu. Aku memilih jam siang sampe sore agar aku tetap bisa ke kampus dulu mengurus beberapa keperluan pagi harinya. Satu minggu berjalan sangat melelahkan, aku gak nyangka bakalan ribet kayak gini. Keperluan kampus yang aku pikir sudah gak banyak lagi ternyata malah lebih banyak, belum lagi tugas-tugas kursus. Aku butuh refresing. Dan tepat sekali hari itu dia mengajakku jalan-jalan. Dia adalah lelaki yang sedang dekat denganku saat itu. Aku memintanya menjemputku sepulang kursus. Pukul 5 waktu Makassar, dia yang ku tunggu tak kunjung datang, beberapa saat pun sebuah pesan singkat masuk di inboxku. Dia bilang bakalan terlambat karena harus singgah kampus dulu mengumpulkan tugas. Selesai membaca pesan darinya aku kembali memasukkan ponselku ke tas tanpa membalasnya. Sedikit kecewa membaca pesan itu, teman-teman kursusku pun sudah pada pulang. Bete juga berdiri sendiri akhirnya aku memutuskan untuk menyeberang jalan karena di seberang jalan ada sebuah mesjid. Di sana aku bisa sholat ashar dulu sambil menunggunya. Selesai sholat, aku memakai kembali jilbabku, sementara tanganku berkutak-katik dengan pentul dan jilbab, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Seorang ibu sedang menuntun suaminya yang buta masuk ke pekarangan mesjid. Aku mulai bertanya-tanya, mau apakah mereka? Tanpa aku sadari pertanyaan bodohku itu. Tentu saja mereka mau sholat ini kan mesjid. Ibu paruh bayah itu menuntun suaminya ke tempat wudhu pria, kemudian ia menuntun suaminya lagi ke tempat sholat pria yang berada di depanku, tak ada pembatas dinding antara pria dan wanita di sini jadi, aku bisa melihat dengan jelas pria itu mulai takbir. Setelah memastikan suaminya sudah sholat barulah ibu itu ke tempat wudhu wanita untuk berwudhu, kemudian ibu itu sholat tak jauh dariku. Aku yang duduk agak kebelakang tak henti-hentinya berucap kagum. Subhanallah….. sungguh cinta yang luar biasa, di jaman seperti sekarang ini ternyata aku masih bisa melihat sebuah bentuk cinta dan kesetiaan. Selama ini aku hanya melihat pasangan yang menganggap cinta itu cuma bahasa pujangga, tapi pasangan di depanku berbeda, apa lagi yang membuat ibu itu bertahan kalau bukan cinta? Tentu cinta yang besar kepada suaminya. Sedetik kemudian aku tersadar dari lamunanku, tadi aku lupa membalasa sms lelakiku.
“aku tunggu di mesjid babul jannah ya”
Lima menit berlalu tanpa ada balasan. Pasangan suami istri di depanku sudah selesai sholat. Ku dengar bapak itu memanggil istrinya. Wanita itu langsung berdiri dan sempat balik ke arahku sambil tersenyum, aku membalas senyuman ibu itu sambil menundukkan sedikit kepalaku. Aku tidak tau dari mana mereka, sudah sejauh mana mereka berjalan, dan mau kemana mereka sekarang, yang ku lihat tak sedikit pun ada raut lelah di wajahnya, mungkin cinta juga sudah membuang rasa lelah di tubuhnya. Ibu itu kembali menghampiri suaminya dan menuntunnya keluar mesjid. Aku terus memperhatikan mereka hingga mereka sudah tak terlihat karena terhalang pagar mesjid yang tinggi. Aku kembali larut dalam lamunanku. Mungkinkan aku akan menemukan seorang yang setia seperti pasangan ini? Kemudian aku terfikirkan dengan lelaki yang sedang dekat denganku saat ini. Akankah lelaki ini yang kelak akan menemaniku hingga menua? Entahlah…… namun jika memang aku ditakdirkan bersamanya aku tidak yakin bisa seperti pasangan suami istri tadi. Lihat saja, dia janjinya jam lima tapi sekarang sudah setengah enam dan dia belum juga datang. Aku sudah mulai kesal, urusan menjemputku saja dia masih terlambat. aku kembali mengirimkannya pesan singkat
“dimana ki? Nda keburu nanti sunsetnya”
Dua menit kemudian aku mendengar sebuah motor berhenti di depan mesjid, aku tau itu dia tapi aku tidak langsung keluar, biar saja dia menunggu dulu di luar biar dia tau bagaimana rasanya menunggu. Egoku mulai keluar, ponselku berdering, dia menelponku
“dibagian mana ki? Adama di depan mesjid”
“iya, tunggu” jawabku singkat kemudian menutup telepon.
Aku baru saja akan memarahinya saat dia memberiku helm tapi dia lebih dulu membuka mulut
“gimana sih, adakah orang menunggu di dalam, seharusnya kita tunggu ka disini supaya nda susah ka cari ki”
Aku kaget, loh kenapa jadi aku yang di marahin? Rasa-rasanya aku ingin memukulnya dengan helm yang ada di tanganku tapi dia menyuruhku cepat naik dan aku seperti kambing conge langsung mengikuti perintahnya. Di perjalanan menuju pantai losari aku hanya diam, aku kembali melamunkan pasangan tadi, kembali memikirkan siapa pemilik tulang rusuk ini. Aku tidak yakin lelaki yang sedang memboncengku adalah orangnya, banyak ketidak cocokkan antara kami yang membuatku ragu. Aku tidak yakin dengannya, dan benar saja sebulan setelah acara jalan-jalan itu aku putus dengannya. Kami masih sama-sama egois, itu permasalahan kalsiknya tapi sebenarnya masalahnya karena aku yang masih perlu di tuntun bukan menuntun, aku yang harus di tuntun seperti bapa-bapa buta itu, dan aku membutuhkan seorang lelaki seperti ibu itu, yang mau menuntunku ke rumah Allah. Bukan sebaliknya.

Kamis, 14 Maret 2013

AKU (BENCI) JATUH CINTA

aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu
aku benci deg-degkan saat berada di dekatmu,
aku benci harus bercerita lucu demi melihatmu tertawa
aku benci memelukmu dari belakang, karena pasti kamu bisa mendengar detak jantungku.
Aku benci saat makan berdua denganmu
aku benci terkejut saat smsmu masuk di inboxku, dan aku harus menghabiskan waktu begitu lama mencari kalimat yang tepat untuk membalasnya
aku benci saat harus jalan berdua denganmu,
aku benci saat aku harus terlihat cantik di depanmu,
Aku benci harus bertemu denganmu setiap hari jumat, dan merindukanmu dari hari sabtu sampe kamis
aku benci bahkan saat aku harus mengatur mimik muka saat bicara denganmu. Aku benci semua itu, seakan-akan aku harus sempurna di matamu, atau aku bisa jadi kehilangan kamu.

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu, apakah pernyataan bahwa cuma aku yang bisa membuatmu tertawa itu cuma penyataan biasa yang aku salah artinya dengan penuh percaya diri? Apakah nyanyianmu itu sebagai pengantar tidur agar tidurku nyenyak atau cuma nyanyian untuk menghibur dirimu sendiri yang kamu perdengarkan ke aku?
apakah genggaman tanganmu hanyalah genggaman tanpa perasaan apa2 atau aku yang lagi-lagi salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

aku benci ketika logika aku harus bersuara "jangan bodoh, tidak mungkin dia punya perasaan yang sama denganmu, ini cuma perasaan sementara dan pada akhirnya dia akan pergi meninggalkanmu"
kemudian di bantah oleh hati yang berkata "jangan hiraukan logikamu"

aku benci jatuh cinta, demi Tuhan, aku benci jatuh cinta terutama kepada kamu, bahkan jika boleh memilih. Aku memilih tuk tidak mengenalmu. Karena di balik perasaan deg-degkan ini, di balik rasa kangen, bahagia, dan canggung ini, ada perasaan takut, takut kalo aku tidak bisa memilikimu.