aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu
aku benci deg-degkan saat berada di dekatmu,
aku benci harus bercerita lucu demi melihatmu tertawa
aku benci memelukmu dari belakang, karena pasti kamu bisa mendengar detak jantungku.
Aku benci saat makan berdua denganmu
aku benci terkejut saat smsmu masuk di inboxku, dan aku harus
menghabiskan waktu begitu lama mencari kalimat yang tepat untuk
membalasnya
aku benci saat harus jalan berdua denganmu,
aku benci saat aku harus terlihat cantik di depanmu,
Aku benci harus bertemu denganmu setiap hari jumat, dan merindukanmu dari hari sabtu sampe kamis
aku benci bahkan saat aku harus mengatur mimik muka saat bicara
denganmu. Aku benci semua itu, seakan-akan aku harus sempurna di matamu,
atau aku bisa jadi kehilangan kamu.
Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu, apakah
pernyataan bahwa cuma aku yang bisa membuatmu tertawa itu cuma penyataan
biasa yang aku salah artinya dengan penuh percaya diri? Apakah
nyanyianmu itu sebagai pengantar tidur agar tidurku nyenyak atau cuma
nyanyian untuk menghibur dirimu sendiri yang kamu perdengarkan ke aku?
apakah genggaman tanganmu hanyalah genggaman tanpa perasaan apa2
atau aku yang lagi-lagi salah mengartikan dengan penuh percaya diri?
aku benci ketika logika aku harus bersuara "jangan bodoh, tidak
mungkin dia punya perasaan yang sama denganmu, ini cuma perasaan
sementara dan pada akhirnya dia akan pergi meninggalkanmu"
kemudian di bantah oleh hati yang berkata "jangan hiraukan logikamu"
aku benci jatuh cinta, demi Tuhan, aku benci jatuh cinta terutama
kepada kamu, bahkan jika boleh memilih. Aku memilih tuk tidak
mengenalmu. Karena di balik perasaan deg-degkan ini, di balik rasa
kangen, bahagia, dan canggung ini, ada perasaan takut, takut kalo aku
tidak bisa memilikimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar