Sabtu, 13 April 2013

menuntun ke rumah Allah




Ini kisahku beberapa bulan lalu saat aku mengikuti kursus singkat di salah satu tempat kursus di Makassar. Waktu itu aku sudah menyelesaikan semua perkuliahanku tinggal ujian hasil dan skripsi, aku sudah tidak terlalu sibuk lagi jadi aku memutuskan untuk ikut kursus singkat. Jaman sekarang sertifikat itu penting, dan akhirnya aku menemukan tempat kursus yang betul-betul singkat, cuma sebulan dengan frekuensi pertemuan lima hari seminggu. Aku memilih jam siang sampe sore agar aku tetap bisa ke kampus dulu mengurus beberapa keperluan pagi harinya. Satu minggu berjalan sangat melelahkan, aku gak nyangka bakalan ribet kayak gini. Keperluan kampus yang aku pikir sudah gak banyak lagi ternyata malah lebih banyak, belum lagi tugas-tugas kursus. Aku butuh refresing. Dan tepat sekali hari itu dia mengajakku jalan-jalan. Dia adalah lelaki yang sedang dekat denganku saat itu. Aku memintanya menjemputku sepulang kursus. Pukul 5 waktu Makassar, dia yang ku tunggu tak kunjung datang, beberapa saat pun sebuah pesan singkat masuk di inboxku. Dia bilang bakalan terlambat karena harus singgah kampus dulu mengumpulkan tugas. Selesai membaca pesan darinya aku kembali memasukkan ponselku ke tas tanpa membalasnya. Sedikit kecewa membaca pesan itu, teman-teman kursusku pun sudah pada pulang. Bete juga berdiri sendiri akhirnya aku memutuskan untuk menyeberang jalan karena di seberang jalan ada sebuah mesjid. Di sana aku bisa sholat ashar dulu sambil menunggunya. Selesai sholat, aku memakai kembali jilbabku, sementara tanganku berkutak-katik dengan pentul dan jilbab, mataku menangkap pemandangan yang tak biasa. Seorang ibu sedang menuntun suaminya yang buta masuk ke pekarangan mesjid. Aku mulai bertanya-tanya, mau apakah mereka? Tanpa aku sadari pertanyaan bodohku itu. Tentu saja mereka mau sholat ini kan mesjid. Ibu paruh bayah itu menuntun suaminya ke tempat wudhu pria, kemudian ia menuntun suaminya lagi ke tempat sholat pria yang berada di depanku, tak ada pembatas dinding antara pria dan wanita di sini jadi, aku bisa melihat dengan jelas pria itu mulai takbir. Setelah memastikan suaminya sudah sholat barulah ibu itu ke tempat wudhu wanita untuk berwudhu, kemudian ibu itu sholat tak jauh dariku. Aku yang duduk agak kebelakang tak henti-hentinya berucap kagum. Subhanallah….. sungguh cinta yang luar biasa, di jaman seperti sekarang ini ternyata aku masih bisa melihat sebuah bentuk cinta dan kesetiaan. Selama ini aku hanya melihat pasangan yang menganggap cinta itu cuma bahasa pujangga, tapi pasangan di depanku berbeda, apa lagi yang membuat ibu itu bertahan kalau bukan cinta? Tentu cinta yang besar kepada suaminya. Sedetik kemudian aku tersadar dari lamunanku, tadi aku lupa membalasa sms lelakiku.
“aku tunggu di mesjid babul jannah ya”
Lima menit berlalu tanpa ada balasan. Pasangan suami istri di depanku sudah selesai sholat. Ku dengar bapak itu memanggil istrinya. Wanita itu langsung berdiri dan sempat balik ke arahku sambil tersenyum, aku membalas senyuman ibu itu sambil menundukkan sedikit kepalaku. Aku tidak tau dari mana mereka, sudah sejauh mana mereka berjalan, dan mau kemana mereka sekarang, yang ku lihat tak sedikit pun ada raut lelah di wajahnya, mungkin cinta juga sudah membuang rasa lelah di tubuhnya. Ibu itu kembali menghampiri suaminya dan menuntunnya keluar mesjid. Aku terus memperhatikan mereka hingga mereka sudah tak terlihat karena terhalang pagar mesjid yang tinggi. Aku kembali larut dalam lamunanku. Mungkinkan aku akan menemukan seorang yang setia seperti pasangan ini? Kemudian aku terfikirkan dengan lelaki yang sedang dekat denganku saat ini. Akankah lelaki ini yang kelak akan menemaniku hingga menua? Entahlah…… namun jika memang aku ditakdirkan bersamanya aku tidak yakin bisa seperti pasangan suami istri tadi. Lihat saja, dia janjinya jam lima tapi sekarang sudah setengah enam dan dia belum juga datang. Aku sudah mulai kesal, urusan menjemputku saja dia masih terlambat. aku kembali mengirimkannya pesan singkat
“dimana ki? Nda keburu nanti sunsetnya”
Dua menit kemudian aku mendengar sebuah motor berhenti di depan mesjid, aku tau itu dia tapi aku tidak langsung keluar, biar saja dia menunggu dulu di luar biar dia tau bagaimana rasanya menunggu. Egoku mulai keluar, ponselku berdering, dia menelponku
“dibagian mana ki? Adama di depan mesjid”
“iya, tunggu” jawabku singkat kemudian menutup telepon.
Aku baru saja akan memarahinya saat dia memberiku helm tapi dia lebih dulu membuka mulut
“gimana sih, adakah orang menunggu di dalam, seharusnya kita tunggu ka disini supaya nda susah ka cari ki”
Aku kaget, loh kenapa jadi aku yang di marahin? Rasa-rasanya aku ingin memukulnya dengan helm yang ada di tanganku tapi dia menyuruhku cepat naik dan aku seperti kambing conge langsung mengikuti perintahnya. Di perjalanan menuju pantai losari aku hanya diam, aku kembali melamunkan pasangan tadi, kembali memikirkan siapa pemilik tulang rusuk ini. Aku tidak yakin lelaki yang sedang memboncengku adalah orangnya, banyak ketidak cocokkan antara kami yang membuatku ragu. Aku tidak yakin dengannya, dan benar saja sebulan setelah acara jalan-jalan itu aku putus dengannya. Kami masih sama-sama egois, itu permasalahan kalsiknya tapi sebenarnya masalahnya karena aku yang masih perlu di tuntun bukan menuntun, aku yang harus di tuntun seperti bapa-bapa buta itu, dan aku membutuhkan seorang lelaki seperti ibu itu, yang mau menuntunku ke rumah Allah. Bukan sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar